Tulisan

Artikel populer, opini, dan catatan ringan.

Menampilkan 12 dari 16 tulisan

TulisanKeluarga

Satu Juz, Satu Langkah (Tahniah atas Pencapaian ananda Muhammad Syamil Athaillah)

4 September 2026

Satu Juz, Satu Langkah! Alhamdulillah.. Babang Syamil hari ini punya cerita keren: hafalan Juz 30 selesai, dapat predikat Jayyid Jiddan, dan tentu saja ini bukan sekadar soal angka! Setiap anak punya speed-nya masing-masing, ada yang ngebut, ada yang santai tapi konsisten, ada yang jago hafalan, ada yang jago bola dan semuanya tetap punya kesempatan untuk tumbuh hebat dengan caranya sendiri. Jadi, jangan sibuk membandingkan langkahnya dengan kakak atau teman; rayakan progresnya, temani prosesnya, dan terus kasih semangat! Karena satu halaman yang berhasil dihafal hari ini bisa menjadi awal dari perjalanan panjang bersama Al-Qur’an. Keep going, Babang! Semoga makin cinta Al-Qur’an, makin istiqamah, dan suatu hari nanti menjadi Ahlul Qur’an yang membanggakan Abi, Umi, keluarga, dan tentu saja dirinya sendiri.

Baca selengkapnya
TulisanInspirasi

Maulid Nabi: Ketika Akhlak Menjadi Modal Peradaban

25 Agustus 2026

🌙 Maulid Nabi ﷺ bukan sekadar momentum untuk mengingat Rasulullah, tetapi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah akhlak beliau benar-benar hidup dalam diri kita? Di tengah bangsa yang terus tumbuh dan berubah, kita membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga amanah dan dapat dipercaya. Dari kekaguman kepada Rasulullah, semoga lahir perubahan diri, keteladanan, dan akhirnya peradaban. Selengkapnya saya tuangkan dalam tulisan berikut, semoga tidak hanya dibaca, tetapi mengajak kita bercermin.

Baca selengkapnya
TulisanCatatan

Trilogi Refleksi Kemerdekaan (Part-3/3 – Tamat) “Setelah Merdeka, Kita Mau Jadi Apa?”

20 Agustus 2026

Tulisan ini merupakan refleksi mendalam mengenai makna kemerdekaan yang dipandang sebagai sebuah amanah berkelanjutan bagi generasi masa kini. Penulis menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati saat ini adalah hasil pengorbanan pahlawan yang harus dijaga melalui integritas, keadilan, dan tanggung jawab moral. Fokus utama teks ini adalah ajakan untuk berhenti terjebak dalam perdebatan masa lalu dan mulai melakukan audit diri demi memperbaiki kualitas bangsa. Kemerdekaan sejati digambarkan sebagai perjuangan melawan korupsi, kebodohan, dan sikap apatis dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya, sumber ini mengingatkan bahwa setiap individu memegang tongkat estafet untuk mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada generasi mendatang.

Baca selengkapnya
TulisanCatatan

Trilogi Refleksi Kemerdekaan (Part-2/3) “Tujuh Kata Yang Mengubah Arah Sejarah”

19 Agustus 2026

Teks ini merupakan refleksi mendalam mengenai peristiwa bersejarah pada 18 Agustus 1945, saat para pendiri bangsa melakukan kompromi krusial terkait penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan Indonesia. Penulis menekankan bahwa perubahan rumusan sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah kekalahan politik, melainkan sebuah seni menjaga kemaslahatan yang lebih besar di tengah keberagaman etnis dan agama. Sumber ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar menghakimi masa lalu dengan perspektif modern, melainkan memahami konteks darurat dan kerendahan hati para tokoh bangsa dalam mencari titik temu. Sejarah ini dipandang sebagai pelajaran berharga tentang kedewasaan berpolitik di mana persatuan lahir dari kesediaan untuk saling mendengar dan mengalah. Akhirnya, narasi ini menantang generasi masa kini untuk mengisi kemerdekaan dengan integritas dan karakter, bukan sekadar terjebak dalam perdebatan identitas yang memecah belah. Kesimpulannya, Indonesia adalah sebuah amanah berkelanjutan yang harus terus dirawat melalui nilai-nilai keadilan dan persaudaraan oleh setiap generasi.

Baca selengkapnya
TulisanCatatan

Trilogi Refleksi Kemerdekaan (Part-1/3) “Kita Menikmati Kemerdekaan, Mereka Membayarnya”

18 Agustus 2026

Kemerdekaan yang Kita Nikmati, Mereka yang Membayar Harganya Setiap bulan Agustus, Indonesia mendadak bersalin rupa menjadi merah putih. Bendera berkibar di depan rumah, umbul-umbul melintang di gang-gang sempit, dan lagu perjuangan bergaung dari pengeras suara masjid hingga lapangan kampung. Para pejabat tampil anggun dengan pakaian adat, sementara linimasa media sosial penuh dengan ucapan selamat yang seragam. Namun, begitu gegap gempita itu usai, kita segera kembali pada ritme hidup yang monoton. Kita berangkat bekerja, anak-anak pergi sekolah, dan sebagian dari kita mungkin sibuk memesan makanan lewat aplikasi karena belum sempat memasak. Bagi generasi yang lahir setelah dentum meriam reda, kemerdekaan sering kali terasa seperti "udara". Ia ada setiap hari, dihirup tanpa sadar, dan karena kehadirannya yang konstan, kita sering lupa betapa mahal harganya. Kita menerima Indonesia yang sudah merdeka sebagai sebuah kepastian, bukan sebagai hasil dari sebuah transaksi berdarah yang tagihannya sudah dilunasi oleh orang lain.

Baca selengkapnya
TulisanMedia

Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

12 Agustus 2026

Tahun boleh berganti. Usia boleh bertambah. Namun pertanyaannya sederhana: Apakah iman kita ikut bertumbuh? Muharram mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah arah: dari lalai menuju sadar, dari keluh menuju syukur, dari diri menuju Ilahi.

Baca selengkapnya
TulisanMedia

Hari Ini Kami Belajar Menjadi Orang Tua Lagi

12 Agustus 2026

Hari Ini Kami Belajar Menjadi Orang Tua Lagi "Keluarga Sehidup Sesurga." Sebuah tema yang sederhana terdengar di telinga, tetapi sesungguhnya mengandung cita-cita yang sangat besar. Sebab tidak ada keluarga yang benar-benar berhasil jika hanya mampu hidup bersama di dunia, tetapi gagal saling menggenggam tangan menuju surga Allah.. Ahad, 19 Juli 2026

Baca selengkapnya

Darah, Data, dan Amanah

24 Juni 2026

Di balik keriuhan kurban, ada sunyi yang memastikan setiap tetes darah tidak hanya sah secara syar’i, tetapi juga bersih secara administrasi; karena integritas hadir untuk menyembelih kelalaian sebelum amanah membusuk dalam sistem.

Baca selengkapnya