Keluarga

Satu Juz, Satu Langkah (Tahniah atas Pencapaian ananda Muhammad Syamil Athaillah)

4 September 2026 · Abdul Chadjib Halik3 menit baca 36× dibaca

Satu Juz, Satu Langkah (Tahniah atas Pencapaian ananda Muhammad Syamil Athaillah)

“Satu juz hari ini bukan sekadar angka,
tetapi satu langkah kecil menuju perjalanan panjang bersama Al-Qur’an.”

Di rumah kami ada empat anak.

Kakak Akram, Mbak Zizah, Mbak Alyssa, dan Babang Syamil.

Kalau bicara soal hafalan Al-Qur'an, perjalanan mereka berbeda-beda.

Kakak Akram sudah menjadi Hafizh Qur'an sejak kelas 2 SMA.

Mbak Zizah menyelesaikan 20 juz ketika lulus SMA.

Mbak Alyssa sekarang duduk di kelas 4 SD, masuk kelas khusus Tahfidz, dan sudah memiliki hafalan 5 juz.

Sementara Babang Syamil?

Beberapa waktu lalu hafalannya masih belum sampai 1 juz.

Kalau hanya melihat angka, mungkin Babang terlihat paling tertinggal.

Tapi saya kemudian belajar satu hal:

Anak bukan sekadar angka.

Babang punya dunianya sendiri.

Hobinya bermain bola.

Hampir setiap pekan dia mengikuti ekskul futsal di sekolahnya.

Kalau sudah bermain bola, sepertinya dunia miliknya sendiri.

Pernah suatu hari dia bermain bola bersama teman-temannya sampai menjelang Maghrib.

Ternyata jari kakinya terluka.

Berdarah.

Tapi dia tidak langsung pulang.

Sampai akhirnya menjelang Maghrib baru pulang ke rumah sambil menangis.

Saya kira dia menangis karena kakinya sakit.

Ternyata bukan.

Dia menangis karena takut dimarahi Abinya.

Setelah dibujuk Uminya, barulah dia bercerita bahwa kakinya terluka dan masih mengeluarkan darah.

Saya lihat lukanya.

Cukup panjang.

Akhirnya kami membawanya ke klinik.

Dokter langsung memberikan tindakan.

Lukanya dibersihkan.

Kemudian dijahit.

Tujuh jahitan.

Tujuh.

Bagi seorang anak kecil, tentu bukan luka yang sederhana.

Saya kira setelah kejadian itu Babang akan kapok bermain bola.

Ternyata saya salah.

Setelah sembuh, dia kembali bermain bola.

Kembali futsal.

Kembali berlari.

Kembali mengejar bola.

Seolah-olah tujuh jahitan itu hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan masa kecilnya.

Dan saya tersenyum.

Mungkin memang begitulah karakter Babang.

Dia punya energi.

Dia aktif.

Dia mudah bergaul.

Dia bisa berinteraksi dengan teman sebaya, bahkan dengan anak yang lebih besar ataupun lebih kecil.

Dia mungkin tidak selalu menjadi yang tercepat dalam menghafal.

Tetapi bukan berarti dia tidak memiliki potensi.

Saya belajar untuk tidak terburu-buru menyimpulkan masa depan seorang anak hanya dari pencapaiannya hari ini.

Dan hari ini...

Allah kembali mengajarkan saya tentang itu.

Alhamdulillah.

Babang Syamil baru saja menuntaskan Juz 30.

Total hafalannya kini genap 1 juz.

Dan yang membuat kami semakin bersyukur, pencapaiannya mendapatkan predikat Jayyid Jiddan.

Saya melihat foto pengumumannya.

Anak kecil yang beberapa waktu lalu masih saya ceritakan sebagai anak yang hafalannya belum sampai 1 juz...

Hari ini berdiri dengan senyum membawa Al-Qur'annya.

MasyaAllah. Tabarakallah.

Saya bangga?

Tentu.

Tetapi bukan semata-mata karena angka satu juz itu.

Saya lebih bahagia karena melihat prosesnya.

Karena akhirnya saya semakin yakin:

Anak tidak harus tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Ada anak yang cepat.

Ada yang perlahan.

Ada yang jalannya lurus.

Ada yang harus berputar terlebih dahulu.

Ada yang menemukan kekuatannya di buku.

Ada yang menemukan kekuatannya di lapangan.

Ada yang kuat dalam hafalan.

Ada yang kuat dalam komunikasi.

Ada yang kuat dalam akademik.

Ada pula yang Allah bekali dengan kecerdasan fisik dan sosial.

Tugas orang tua bukan mencetak empat anak menjadi empat salinan yang sama.

Tugas kami adalah mengenali empat amanah yang berbeda, lalu membantu masing-masing menemukan jalan terbaiknya menuju Allah.

Kakak Akram punya jalannya.

Mbak Zizah punya jalannya.

Mbak Alyssa punya jalannya.

Dan Babang Syamil juga punya jalannya.

Hari ini, Babang telah menuntaskan satu juz.

Besok mungkin dua.

Lima.

Sepuluh.

Atau mungkin Allah menentukan perjalanan yang berbeda untuknya.

Saya tidak tahu.

Yang saya tahu, saya tidak ingin kecintaannya kepada Al-Qur'an tumbuh karena ketakutan dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Saya ingin dia mencintai Al-Qur'an karena dia menemukan kebahagiaan ketika bersamanya.

Dan saya ingin dia memahami bahwa lambat bukan berarti gagal.

Seperti bermain bola.

Kadang jatuh.

Kadang terluka.

Kadang kalah.

Tapi selama masih mau berlari, perjalanan belum selesai.

Mungkin begitu juga hafalan Al-Qur'an.

Tidak harus selalu cepat.

Yang penting terus berjalan.

Dan hari ini, kami sekeluarga ingin mengatakan:

Barakallahu fiik, Babang Syamil.

Abi dan Umi bangga.

Bukan karena Babang akhirnya berhasil menyamai siapa pun.

Tetapi karena Babang berhasil melewati dirinya yang kemarin.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang anak bukanlah:

“Seberapa jauh dia dibandingkan saudaranya?”

Tetapi:

“Seberapa jauh dia bertumbuh dari dirinya yang kemarin?”

Semoga Allah menjaga hafalanmu, Bang.

Menjadikan Al-Qur'an sahabatmu.

Menjadikanmu Ahlul Qur'an.

Dan semoga satu juz hari ini bukan sekadar angka dalam sebuah sertifikat...

tetapi menjadi satu langkah kecil menuju perjalanan panjang bersama Al-Qur'an.

 - Abi

Bagikan:

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.

Komentar ditinjau dulu sebelum tampil. Tanpa cookie, tanpa data pribadi selain nama yang kamu tulis.

Tulisan Lainnya

Maulid Nabi: Ketika Akhlak Menjadi Modal Peradaban
TulisanInspirasi

Maulid Nabi: Ketika Akhlak Menjadi Modal Peradaban

25 Agustus 2026

🌙 Maulid Nabi ﷺ bukan sekadar momentum untuk mengingat Rasulullah, tetapi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah akhlak beliau benar-benar hidup dalam diri kita? Di tengah bangsa yang terus tumbuh dan berubah, kita membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga amanah dan dapat dipercaya. Dari kekaguman kepada Rasulullah, semoga lahir perubahan diri, keteladanan, dan akhirnya peradaban. Selengkapnya saya tuangkan dalam tulisan berikut, semoga tidak hanya dibaca, tetapi mengajak kita bercermin.

Baca selengkapnya

Darah, Data, dan Amanah

24 Juni 2026

Di balik keriuhan kurban, ada sunyi yang memastikan setiap tetes darah tidak hanya sah secara syar’i, tetapi juga bersih secara administrasi; karena integritas hadir untuk menyembelih kelalaian sebelum amanah membusuk dalam sistem.

Baca selengkapnya