Enam Juz, Enam Jejak Cinta
19 Oktober 2026 · Abdul Chadjib Halik7 menit baca 10× dibaca

Catatan Kecil Abi tentang Anak, Keluarga, dan Perjalanan Menjadi Manusia
Kali ini kabar bahagia datang dari si Kakak, Mbak Alyssa Nurul Azzahra.
Alhamdulillah.. Alyssa berrhasil menuntaskan hafalan Juz 3. Dengan pencapaian itu, total hafalnnya kini mencapai enam juz Al-Qur’an.
MasyaAllah, Tabarakallah. 💚
Abi dan Umi tentu bahagia. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan ketika melihat anak-anak perlahan tumbuh bersama Al-Qur’an. Bukan hanya bertambah hafalannya, tetapi juga bertambah pngalaman, kesabaran, dan kesempatan untuk belajar istiqamah.
Namun, semakin lama menjadi orang tua, Abi belajar bahwa setiap pencapaian anak selalu menyimpan cerita yang jauh lebih besar daripada angka yang tertulis di atas kertas.
Enam juz bukan sekadar enam bagian hafalan.
Di baliknya ada ayat-ayat yang diulang, bacaan ynag diperbaiki, pelajaran yang perlu dikuatkan, dan proses yang harus dijalani lagi dan lagi.
Ada hari ketika hafalan terasa mudah. Ada pula saat satu ayat perlu diulang berkali-kali.
Begitulah perjalanan belajar.
Tidak selalu cepat, tidsk selalu mulus, tetapi setiap usaha punya nilai di hadapan Allah.
Alhamdulillah, dalam perejalanan ini Alyssa juga mendapatkan pendampingan dan bimbingan dari para guru, Ustadz, dan Ustadzah di SD Integral Hidayatullah Depok. Dengan penuh kesabaran, perhatian, dan kasih sayang, mereka mendidik Alyssa dan anak-anak lainnya agar tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi juga belajar tentang adab, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Sebagai orang tua, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh guru, Ustadz, dan Ustadzah yang telah membersamai proses pendidikan anak-anak kami. Kami menyadari bahwa pencapaian ini bukan hasil usaha Alyssa seorang diri. Ada doa keluarga, bimbingan para pendidik, dan lingkungan belajar yang ikut mengambil bagian di dalamnya.
Semoga setiap ilmu yang diajarkan, setiap nasihat yang disampaikan, dan setiap kesabaran yang diberikan menjadi amal jariyah serta dibalas dengan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Alyssa, Al-Qur’an, dan Dunia Kecilnya
Di sisi lain, Abi juga bersyukur karena Alyssa tetap tumbuh sebagai anak-anak pada umumnya.
Di sela kesibukannya menghafal Al-Qur’an, ia masih senang bermain bersama teman-teman sebaya, menikmati jajanan kesukaannya, bermain boneka, dan menyusun berbagai rancang bangun mainan.
Terkadang, ia juga ikut bermain bola bersama sang adik, Babang Syamil. Hehee… 😄⚽
Kalau sudah bermain bersama teman-temannya atau asyik dengan mainannya, Alyssa bisa menikmati dunianya sendiri.
Ia juga senang menulis, menggambar, dan membuat cerita bergambar. Bahkan, kalau sudah berkonsentrasi menggambar, terkadang ia bisa lupa waktu.
Melihatnya asyik menuangkan imajinasi di atas kertas menjadi pengingat bagi Abi dan Umi bahwa masa kanak-kanak adalah bagian penting dari perjalanan tumbuhnya.
Anak yang sedang menghafal Al-Qur’an tetaplah seorang anak yang membutuhkan ruang untuk bermain, tertawa, berimajinasi, mencoba sesuatu yang baru, dan sesekali melakukan hal-hal sederhana yang membuatnya bahagia.
Menjadi anak yang dekat dengan Al-Qur’an tidak berarti harus kehilangan keceriaan masa kecilnya.
Justru Abi dan Umi berharap, kedekatannya dengan Al-Qur’an tumbuh berdampingan dengan rasa ingin tahu, kreativitas, persahabatan, dan kegembiraan dalam menjalani hari-harinya.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang mengisi ingatan dengan pengetahuan. Pendidikan juga tentang memberi ruang bagi anak untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh.
Dari Grogi Menjadi Lebih Percaya Diri
Ada satu lagi perkembangan Alyssa yang diam-diam membuat Abi dan Umi bahagia.
Belakangan ini, Alyssa cukup sering mendapat kepercayaan untuk menjadi pembaca tilawah Al-Qur’an dalam pembukaan berbagai acara yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, Komite Sekolah, maupun kelompok pengajian ibu-ibu Mushida.
Tentu saja, Abi dan Umi bersyukur atas kepercayaan tersebut.
Namun, ada cerita kecil yang menarik dari setiap penampilannya.
Dulu, kalau mendapat tugas membaca tilawah, persiapannya bisa cukup panjang dan menyita banyak perhatiannya.
Alyssa memang termasuk anak yang ingin segala sesuatunya berjalan dengan sempurna.
Bacaan harus dipersiapkan sebaik mungkin. Ia ingin tampil dengan baik. Bahkan, sebelum acara dimulai, rasa grogi itu kadang sudah terasa.
Ketika tiba waktunya tampil, ia berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Tetapi wajah tegangnya terkadang masih terlihat.
Barulah setelah selesai, senyum cerianya kembali muncul.
Seolah-olah beban yang sejak tadi dipikulnya akhirnya terlepas.
Abi dan Umi melihat ada sesuatu yang menarik dari situ.
Alyssa ingin memberikan yang terbaik. Itu hal yang baik. Tetapi keinginannya agar semuanya sempurna terkadang justru membuat dirinya sendiri merasa terbebani.
Bukankah kita jiga sering begitu ketika dewasa?
Ingin pekerjaan sempurna. Ingin semua berjalan sesuai rencana. Takut melakukan kesalahan. Takut hasilnya tidak sesuai harapan.
Sampai-sampai, sesuatu yang seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar justru terasa seperti beban yang harus ditaklukkan.
Alhamdulillah, sekarang ada perkembangan yang menggembirakan.
Ketika kembali mendapat tugas tilawah, Alyssa terlihat lebih santai. Rasa groginya pun mulai berkurang.
Ia tetap berusaha mempersiapkan diri, tetapi tidak lagi terlihat setegang dahulu.
Abi dan Umi tentu tidak berharap ia langsung menjadi anak yang selalu percaya diri dalam setiap keadaan. Tidak perlu juga menghilangkan seluruh rasa gugupnya.
Kami justru bersyukur melihatnya perlahan belajar menghadapi rasa gugup itu.
Sebab, keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut. Keberanian adalah kesediaan untuk tetap melangkah meskipun rasa takut sesekali masih hadir.
Mungkin, setiap kesempatan tampil di depan orang banyak sedang mengajarkan Alyssa sesuatu yang tidak selalu tertulis di buku pelajaran: bahwa ia boleh berusaha sebaik mungkin tanpa harus membebani dirinya dengan tuntutan untuk selalu sempurna.
Dan bagi Abi, itu juga sebuah pencapaian.
Bukan pencapaian yang tertulis di sertifikat. Bukan pula sesuatu yang bisa dihitung dengan jumlah juz.
Tetapi pertumbuhan kecil dalam diri seorang anak yang sedang belajar mengenal kemampuan, mengelola perasaan, dan mempercayai dirinya sendiri.
Setiap Anak Punya Perjalanan
Ada satu hal lagi yang membuat Abi bersyukur.
Di rumah ini, setiap anak punya perjalanan masing-masing.
Babang Syamil dengan satu juz yang telah dituntaskannya. Mbak Alyssa kini dengan total enam juz hafalan. Kakak-kakaknya pun memiliki perjalanan belajar dan tanggung jawab sendiri.
Masing-masing punya karakter, minat, kelebihan, dan tantangan yang berbeda.
Abi tidak ingin rumah ini menjadi tempat anak-anak saling berlomba untuk membuktikan siapa yang paling hebat.
Kami ingin rumah ini menjadi tempat mereka saling menyemangati, saling mendoakan, dan belajar bahwa keberhasilan saudara bukan ancaman bagi diri sendiri, melainkan kabar baik yang patut disyukuri bersama.
Kalau hari ini Alyssa menambah hafalan, kami bersyukur.
Kalau Babang Syamil menunjukkan perkembangan dalam proses belajarnya, kami pun bersyukur.
Kalau salah satu dari mereka berani mencoba sesuatu yang sebelumnya membuatnya gugup, itu juga layak dirayakan.
Sebab, pertumbuhan tidak selalu hadir dalam bentuk prestasi besar. Kadang ia muncul dalam keberanian kecil, sikap yang semakin matang, kesediaan mencoba kembali, atau kemampuan menerima bahwa tidak semua hal harus sempurna.
Dalam keluarga, kita tidak harus berjalan dengan kecepatan yang sama untuk sampai pada tujuan kebaikan.
Hari ini mungkin satu anak melangkah lebih jauh. Esok, anak yang lain menyusul dengan caranya sendiri.
Tugas orang tua bukan memaksa semua anak tumbuh dalam pola yang sama, melainkan mengenali kebutuhan masing-masing dan menemani mereka dengan penuh kasih sayang.
Untuk Mbak Alyssa, Anak Abi dan Umi Tersayang
Barakallahu fiik, Nak.
Selamat atas tuntasnya hafalan Juz 3 dan tercapainya total enam juz Al-Qur’an.
Abi dan Umi bangga atas ikhtiar yang telah kamu jalani. Namun, lebih dari sekadar jumlah hafalan, kami berharap kamu terus bertumbuh menjadi anak yang mencintai Al-Qur’an, menjaga adab, dan belajar mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan.
Tetaplah menjadi Alyssa yang ceria, senang bermain, gemar menggambar, penuh imajinasi, dan tekun berkarya.
Kalau mendapat kesempatan membaca tilawah, persiapkanlah dirimu dengan baik. Setelah itu, tarik napas, tenangkan hati, dan lakukan yang terbaik. Tak perlu takut jika masih merasa gugup. Tak perlu merasa gagal hanya karena ada hal yang belum sempurna.
Kamu sedang belajar, Nak. Dan belajar memang bagian dari perjalanan panjang.
Semoga Allah menjaga hafalanmu, menguatkan istiqamahmu, memperindah akhlakmu, melapangkan hatimu, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam perjalanan hidupmu.
Abi dan Umi akan terus mendoakanmu, mendukung langkahmu, dan menemanimu bertumbuh dalam hafalan, dalam keberanian, dalam kreativitas, dan dalam kebaikan.
Hari ini, Abi kembali diingatkan:
Mendidik anak bukan tentang siapa yang paling cepat sampai atau siapa yang paling sempurna, tetapi bagaimana kita menemani mereka agar terus bertumbuh menuju kebaikan.
Satu juz adalah langkah. Enam juz adalah perjalanan yang telah ditempuh.
Keberanian tampil di depan orang banyak adalah langkah lain. Belajar menerima bahwa diri tidak harus selalu sempurna adalah perjalanan yang lain lagi.
Semuanya berharga.
Sebab, anak-anak tidak hanya sedang bertumbuh dalam hafalan dan pengetahuan. Mereka juga sedang belajar menjadi manusia.
Dan ternyata, dalam menemani mereka, Abi dan Umi pun masih harus terus belajar.
Belajar bersabar. Belajar memahami. Belajar menghargai proses. Dan belajar untuk tidak hanya merayakan hasil yang terlihat, tetapi juga pertumbuhan kecil yang sering luput dari perhatian.
Enam Juz, Enam Jejak Cinta. Semoga setiap ayat menjadi cahaya, setiap hafalan menjadi amanah, setiap keberanian menjadi langkah kebaikan, dan setiap proses menjadi jalan menuju rida Allah.
Peluk sayang dan doa terbaik dari Abi dan Umi. 💚📖
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menanggapi.
Tulisan Lainnya

Satu Juz, Satu Langkah (Tahniah atas Pencapaian ananda Muhammad Syamil Athaillah)
4 September 2026
Satu Juz, Satu Langkah! Alhamdulillah.. Babang Syamil hari ini punya cerita keren: hafalan Juz 30 selesai, dapat predikat Jayyid Jiddan, dan tentu saja ini bukan sekadar soal angka! Setiap anak punya speed-nya masing-masing, ada yang ngebut, ada yang santai tapi konsisten, ada yang jago hafalan, ada yang jago bola dan semuanya tetap punya kesempatan untuk tumbuh hebat dengan caranya sendiri. Jadi, jangan sibuk membandingkan langkahnya dengan kakak atau teman; rayakan progresnya, temani prosesnya, dan terus kasih semangat! Karena satu halaman yang berhasil dihafal hari ini bisa menjadi awal dari perjalanan panjang bersama Al-Qur’an. Keep going, Babang! Semoga makin cinta Al-Qur’an, makin istiqamah, dan suatu hari nanti menjadi Ahlul Qur’an yang membanggakan Abi, Umi, keluarga, dan tentu saja dirinya sendiri.
Baca selengkapnya →
Maulid Nabi: Ketika Akhlak Menjadi Modal Peradaban
25 Agustus 2026
🌙 Maulid Nabi ﷺ bukan sekadar momentum untuk mengingat Rasulullah, tetapi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah akhlak beliau benar-benar hidup dalam diri kita? Di tengah bangsa yang terus tumbuh dan berubah, kita membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas, tetapi juga amanah dan dapat dipercaya. Dari kekaguman kepada Rasulullah, semoga lahir perubahan diri, keteladanan, dan akhirnya peradaban. Selengkapnya saya tuangkan dalam tulisan berikut, semoga tidak hanya dibaca, tetapi mengajak kita bercermin.
Baca selengkapnya →Kedaulatan Amanah di Negeri Merdeka
17 Agustus 2026
Kemerdekaan adalah amanah yang harus diwujudkan melalui kepedulian dan kebermanfaatan bagi sesama.
Baca selengkapnya →